Senin, 22 Agustus 2011

patung jend.soedirman/panglima besar TNI

pelantikan jend.soedirman



“…Beliau Lahir pada tanggal 24 Januari 1916 di Rembang, Kecamatan Bodas Karang Jati Purbalingga Jawa Tengah. Beliau terlahir dari kalangan rakyat biasa dengan Ayahanda beliau bernama Karsid Kertawiraji dan Ibundanya bernama Siyem. Dan ketika bulan Oktober 1943 Pemerintah Jepang yang saat itu berkuasa menggantikan pemerintah Hindia Belanda atas Indonesia. Karena situasi perang dunia II di mana pihak Jepang butuh tambahan Prajurit guna mempertahankan wilayah Jajahannya di Asia Tenggara khususnya Indonesia. Maka Jepang pun membentuk Tentara Pembela Tanah Air ( PETA ). Dan Pemuda Soedirman yang saat itu tengah menjadi seorang Guru HIS di Cilacap Jawa Tengah itu, tak mau ketinggalan untuk mendaftarkan diri sebagai anggota pasukan PETA yang berpusat latihan di Bogor Jawa Barat.

"...Tandu Asli Pengangkut Pak DIRMAN..." Koleksi Museum TNI Satria Mandala Jakarta

Dan setelah dia menamatkan pendidikan kemiliterannya di Bogor, maka oleh pihak komandan tentara Jepang beliau pun di angkat sebagai Daidanco / Komandan Batalyon PETA berkedudukan di Kroya Cilacap Jawa Tengah. Setelah Jepang Menyerah Tanpa Syarat kepada sekutu yaitu pd Tanggal 14 Agustus 1945. Di susul kemudian dengan Proklamasi 17 Agustus 1945 oleh Soekarno – Hatta sebagai pernyataan sikap Kemerdekaan atas nama bangsa Indonesia ini. Maka pemerintahan RI di bawah Pimpinan Bung Karno dan Bung Hatta yang baru berusia sekitar 2 bulan itu, tepatnya pada tanggal 5 Oktober 1945 kemudian membentuk Tentara Keamanan Rakyat ( TKR ), serta sekaligus pula di tetapkan sebagai Hari jadi TNI yang kerap di peringati hingga saat ini. Dan Pasukan BKR yang sebelumnya di bentuk pasca Proklamasi 17 Agustus 1945, kemudian segera meleburkan diri dalam satu kesatuan TKR. Pemuda Soedirman di pilih sebagai Komandan Resimen…lalu kemudian di angkat lagi sebagai Komandan Divisi dengan pangkat Kolonel. Pada Tanggal 12 Desember 1945 Kolonel Soedirman memimpin pertempuran melawan pasukan Sekutu di Ambarawa. Pertempuran 3 hari 3 malam yang berlangsung seru itu, akhirnya pada tanggal 15 Desember 1945 berhasil di menangkan oleh pihak pasukan TKR di bawah pimpinan beliau. Dan Pasukan sekutu pun menarik diri dari Ambarawa menuju arah Semarang. Di dalam catatan sejarah peristiwa itu di kenal dengan istilah Palagan Ambarawa. Dan atas Prestasi dan Keberhasilan Beliau dalam memimpin pasukan TKR inilah, maka Pemerintahan Soekarno – Hatta kemudian melantik Kolonel Soedirman pada tanggal 18 Desember 1945 sebagai Panglima Besar TKR dengan Pangkat Jendral.

"...Pelantikan Panglima Besar Jendral SUDIRMAN oleh Bung KARNO..."

Setelah sukses melantik panglima tertinggi angkatan perang RI, nama Tentara Keamanan Rakyat kerap berubah di antaranya sempat berganti nama menjadi Tentara Keselamatan Rakyat pada tanggal 1 Januari 1946. Lalu berganti lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) pada tanggal 24 Januari 1946. Dan baru pada sekitar bulan Mei 1947 Pemerintah Soekarno – Hatta secara resmi mengumumkan pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI), yang beranggotakan gabungan dari TRI serta Laskar – laskar perang greliya. Dan pemberian nama terakhir itulah yang hingga saat ini tetap di pergunakan sebagai nama resmi lembaga ketentaraan RI.

"...Lukisan Panglima Angkatan Perang RI I Jendral SUDIRMAN..." Koleksi Museum TNI Satria Mandala Jakarta.

Ketika terjadi Serangan Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948 . Belanda menerjunkan pasukannya di sertai berbagai aksi pengeboman di sekitar lapangan Maguwo Yogyakarta yang kini lebih di kenal sebagai daerah kawasan Bandara lapangan Terbang Adi Sucipto. Dan meskipun dalam keadaan Sakit Keras…, Jendral Soedirman turut menyinggkir ke padalaman bersama pasukannya guna memimpin Perang Gerilya melawan arogansi pasukan Belanda. Setelah 7 bulan lamanya memimpin Perang Gerilya di pedalaman Soedirman pun hendak kembali menuju Yogyakarta. dan Karena kondisi kesehatannya yang kian menurun dan tak jua berangsur membaik, maka beristirahatlah beliau di Magelang. Namun Akhirnya pada tanggal 29 Januari 1950 Sang Panglima Besar Angkatan Perang Pertama RI itu pun akhirnya meninggal dunia. Oleh karena penyakit Paru- parunya yang tak kunjung tersembuhkan. Beliau pun wafat pada usia relative muda yaitu 34 tahun. Dan Jenazahnya kini di makamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta….” Salam HORMAT dari Kami Bagi Mu Pak DIRMAN Pahlawan Kusuma Bangsa yang Sejati.

Kisah Seputar G30S/PKI

Sebagai flash back kejadian saat itu, aku mau berbagi cerita yang aku punya mengenai kisah saat itu yang mungkin gak akan pernah ada di buku sejarah di negeri ini.

KISAH PENAMBANG PERAHU DI SUNGAI BENGAWAN SOLO

Namanya Parman, warga Bodo, Keluruhan Kragan, Kecamatan Kalioso, Karanganyar. Sambil mengayuh, dia mau diajak bercerita mengenai kehidupannya sehari-hari sebagai penambang perahu. Setiap hari, mulai pukul 05.00 dia berada di atas perahu yang sejak 1984 dibuatnya sendiri. Biasanya pada jam-jam itu, orang dari seberang sungai yang mau ke pasar, pasti dia meminta jasanya. Baru sekitar pukul 19.00, dia pulang dan menambatkan perahu di tepi sungai.

Sepanjang menjadi penambang perahu, dia telah mengalami berbagai peristiwa yang berhubungan dengan kehidupan di sungai. Dari soal yang berbau mistik seperti perahunya dinaiki makhluk halus yang menyamar manusia hingga peristiwa yang membuatnya trauma pada zaman Gestok (G30S/PKI).

”Bila teringat zaman G30S/PKI, saya merinding. Saat itu Bengawan Solo ini tempat untuk mengapungkan mayat-mayat korban Gestok. Bayangkan, hampir setiap hari ada saja mayat yang tersangkut baito (sebutan dia untuk perahu-Red) saya. Biasanya pakaian si mayat tersangkut paku di baito. Sungguh mengerikan.”

Apa yang dilakukan? Dia hanya menarik mayat itu agar bergerak lagi mengikuti aliran. ”Tidak mungkin mengambilnya untuk dikubur lantaran saking banyaknya.” Cerita mengerikan itu lalu hanya menjadi bagian kenangan dalam dirinya sebagai orang perahu.

KONTROVERSI MAYAT PARA JENDRAL DAN PERWIRA YANG DIBUNUH

Pada hari Kamis tanggal 7 Oktober, Angkatan Bersenjata menyatakan bahwa “matanya (Yani) dicungkil”. Berita ini dikuatkan dua hari kemudian oleh Berita Yudha dengan menambahkan bahwa muka mayat itu ditemukan terbungkus dalam sehelai kain hitam.

Pada tanggal 7 Oktober itu juga Angkatan Bersenjata melukiskan lebih lanjut, tentang bagaimana Jendral Harjono dan Jendral Pandjaitan tewas oleh berondongan tembakan senjata api di rumah masing-masing, lalu mayat mereka dilempar ke dalam sebuah truk yang menghilang dalam kegelapan malam dengan “deru mesinnya yang seperti harimau haus darah”.

Sementara itu Berita Yudha memberitakan tentang bekas-bekas siksaan pada kedua tangan Harjono.

Pada tanggal 9 Oktober Berita Yudha memberitakan, bahwa meskipun muka dan kepala Jendral Suprapto telah dihancurkan oleh “penteror-penteror biadab”, namun ciri-cirinya masih bisa dikenali.

Pada Letnan Tendean terdapat luka-luka pisau pada dada kiri dan perut, lehernya digorok, dan kedua bola matanya “dicungkil”.

Harian ini pada hari berikutnya mengutip saksi mata pengangkat mayat bulan Oktober itu, yang mengatakan bahwa di antara kurban beberapa ada yang matanya keluar, dan beberapa lainnya “ada yang dipotong kelaminnya dan banyak hal-hal lain yang sama sekali mengerikan dan di luar perikemanusiaan.”

Pada tanggal 11 Oktober Angkatan Bersenjata menulis panjang lebar tentang matinya Tendean, dengan menyatakan bahwa ia mengalami siksaan luar biasa di Lubang Buaya, sesudah diserahkan kepada para anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Ia dijadikan benda “permainan jahat” perempuan- perempuan ini, digunakan sebagai “bulan-bulanan sasaran latihan menembak sukwati Gerwani.”

Begitu suratkabar-suratkabar tentara memulai, maka yang lain pun segera serta merta mengikuti. Misalnya Api Pantjasila, orang partai IPKI yang bernaung di bawah militer, pada tanggal 20 Oktober memberitakan, bahwa “alat pencungkil” yang digunakan untuk jendral-jendral itu telah ditemukan oleh pemuda-pemuda anti komunis, ketika mereka menyerbu gedung-gedung Partai Komunis, di desa Harupanggang di luar kota Garut.

Walaupun tanpa diterangkan, mengapa partai tersebut memandang desa itu cocok untuk menyimpannya.

Pada tanggal 25 Oktober suratkabar ini juga memuat pengakuan seseorang bernama Djamin, anggota organisasi pemuda Partai Komunis, Pemuda Rakyat, yang mengatakan telah menyaksikan bagaimana Jendral Suprapto telah disiksa “di luar batas kesusilaan” oleh anggota-anggota Gerwani.

Pengakuan-pengakuan serupa itu dimuat berturut-turut, dan memuncak pada cerita menarik tentang Nyonya Djamilah, disiarkan pada tanggal 6 Oktober oleh Dinas Penerangan ABRI kepada seluruh kalangan pers.

Nyonya Djamilah diceritakan sebagai hamil tiga bulan, pimpinan Gerwani dari Pacitan berumur lima belas tahun, mengaku bahwa ia dan kawan-kawannya di Lubang Buaya telah menerima pembagian pisau kecil serta silet dari anggota-anggota pasukan Gerakan 30 September. Lalu mereka, yang seluruhnya berjumlah seratus orang itu, mengikuti perintah orang- orang itu pula, mulai memotong dan menyayat-sayat kemaluan jendral-jendral yang telah mereka tangkap itu. (”Dibagi-bagikan pisau kecil dan pisau silet… menusuk-nusuk pisau pada kemaluan orang-orang itu. Api Pantjasila, 6 November 1965).

Malahan tidak berhenti di situ saja. Antara yang telah dikuasai militer itu, pada tanggal 30 November melukiskan bagaimana orang-orang Gerwani itu dengan mudahnya telah menyerahkan tubuh mereka kepada para personel AURI yang ikut serta dalam Gerakan 30 September.

Sementara itu pada tanggal 13 Desember Angkatan Bersenjata melukiskan mereka bertelanjang menarikan “Tarian Bunga Harum” di bawah pimpinan Ketua Partai Komunis Dipa Nusantara Aidit, sebelum terjun dalam pesta pora massal bersama para anggota Pemuda Rakyat.

Di dalam cerita-cerita yang memenuhi suratkabar selama bulan- bulan Oktober, November dan Desember ini.

Sementara itu pembantaian besar-besaran terhadap orang-orang yang berhubungan dengan Partai Komunis terus berjalan - terkandung dua hal yang sangat menarik diperhatikan.

Pertama, ditiup-tiupkan bahwa tujuh kurban itu mengalami siksaan yang mengerikan - khususnya dicungkil mata dan dipotong kemaluan mereka; kedua, ditonjolkan bahwa pelaku-pelaku kejahatan adalah orang-orang sipil dari organisasi yang berafiliasi dengan komunis.

HASIL ASLI FORENSIK TIM DOKTER TENTANG TUJUH KORBAN

A.Yani : Luka-luka pada tubuh yang merupakan sepuluh luka tembak masuk dan tiga tembus.

Pandjaitan : mengalami tiga luka tembak pada kepala, serta luka robek kecil di tangan.

Harjono : Penyebab kematiannya rupanya adalah torehan panjang dan dalam pada bagian perut, luka yang lebih mungkin disebabkan oleh bayonet ketimbang pisau lipat atau silet. Sebuah luka serupa yang tak mematikan terdapat pada punggung korban. Cedera lain satu-satunya digambarkan “pada tangan dan pergelangan tangan kiri, luka-luka disebabkan oleh barang tumpul.” Tak ada cara lain yang lebih tepat untuk menafsirkan luka-luka ini kecuali harus mengatakan, bahwa luka-luka tesebut tidak mungkin karena siksaan - jarang penyiksa memilih pergelangan kiri dalam melakukan pekerjaan mereka - dan luka itu barangkali karena mayat itu dilempar ke dalam sumur di Lubang Buaya yang 36 kaki dalamnya.

S. Parman : mengalami lima luka tembak, termasuk dua yang mematikan pada kepala; dan, di samping itu, “robek dan patah tulang pada kepala, rahang, dan kaki kiri bawah, semuanya sebagai akibat benda tumpul dan keras - popor bedil atau dinding dan lantai sumur - tetapi jelas bukan luka-luka “siksaan”, juga tidak sebagai akibat silet atau pisau lipat.

Soeprapto : mati oleh karena sebelas luka tembak pada berbagai bagian tubuhnya. Luka-luka lain berupa enam luka robek dan patah tulang sebagai akibat dari benda tumpul pada kepala dan muka; satu disebabkan oleh benda keras tumpul pada betis kanan; luka- luka dan patah tulang itu “akibat benda tumpul” yang sangat keras pada bagian pinggul dan pada paha kanan atas”; dan tiga sayatan yang, melihat pada ukuran dan kedalamannya, mungkin disebabkan oleh bayonet. Sekali lagi “benda tumpul” mempertunjukkan terjadinya benturan dengan benda-benda keras yang besar dan berbentuk tak menentu (popor bedil dan batu-batu sumur), dan bukannya silet atau pisau.

Sutojo : mengalami tiga luka tembak (termasuk satu yang fatal pada kepala), sedang “tangan kanan dan tempurung kepala retak sebagai akibat benda tumpul keras”. Sekali lagi kombinasi ganjil antara tangan kanan, tulang tengkorak, dan benda pejal berat yang memberikan kesan popor bedil atau batu-batu sumur.
Tendean : mati akibat empat luka tembak. Kecuali itu para ahli tersebut menemukan luka gores pada dahi dan tangan kiri, demikian juga “tiga luka akibat trauma pejal pada kepala.”

Tim terdiri dari

Brigjen Dr Rubiono Kertopati dengan anggota Kolonel Dr

Frans Pattiasina, Prof Dr Sutomo Cokronegoro, Dr Liauw

Yan Siang, dan Dr Lim Yu Thay. Mereka melakukan

tugasnya dari jam 16.30 4 Oktober sampai jam 24.30.

Visum et repertum menyebutkan bahwa tidak ada mata

korban yang dicungkil, kemaluan mereka utuh, 4 korban

berkhitan 3 tidak.

DN.AIDIT

Pada sebuah subuh di bulan November 1965, Aidit dieksekusi. Tubuhnya diberondong senapan AK sampai habis satu magasin. Jasadnya lalu dikuburkan di sebuah liang (sumur) di dalam markas Kodim, Boyolali, Jawa Tengah. Tanpa tanda, tanpa nisan …

BUNG KARNO (BK)

Sejak awal 1968 Bung Karno berada dalam “karantina politik” dan tinggal di pavilyun Istana Bogor, kemudian dipindahkan ke peristirahatan “Hing Puri Bima Sakti” di Batutulis Bogor. Sementara itu tuntutan masyarakat dibuat sedemikian rupa agar semakin keras mendesak Sukarno diadili dengan dalih keterlibatan dalam peristiwa G30S. Persangkaan itu diperkuat kenyataan bahwa Sukarno tidak mau mengutuk PKI yang pimpinannya terlibat dalam percobaan kudeta tersebut.

Prof Mahar Mardjono mengatakan bahwa resep yang dia berikan untuk BK, sengaja disimpan di laci oleh seorang dokter militer berpangkat tinggi.

” Sampai detik terachir BK menolak usulan para pengikutnya terutama dari kalangan Agkatan Darat untuk melakukan perlawanan terhadap langkah-langkah kekerasan berdarah Jenderal Suharto”.

Repoter (orang yang selalu membuat repot) Nyamuk Melaporkan untuk Kompasianer

Jumat, 19 Agustus 2011

puisi IBU

ibu kau adalah seorang perempuan yang sangat baik di mata sang anak ekau seorang ibu yang luar biasa kau pertarukan nyawa mu demi melahirkan aku kau adalah seorang pembibing yang sangat baik demi aku kau lakukan apa saja demi kebahagiaan untuk ku tak akan ada yang bisa menggantikan kamu sampai aku menutup mata terimakasih ibu kau telah memberikan sayang mu kepada ku I LOVE YOU mama


gue anak MAMA

Kamis, 18 Agustus 2011

cerita panglima besar jenderal soedirman

Masyarakat menyebutnya sesepuh atau orang sakti. Saya tidak tahu kalau yang tinggal di rumah itu Panglima Besar Jenderal Soedirman. Hampir setiap pagi, saya dipanggil ‘sesepuh’ untuk sarapan bubur. Karena dalam kondisi sakit, ‘sesepuh’ di luar kesibukannya mengatur strategi perang, dan memberi amanat, beliau setiap pagi berjemur sinar matahari. Ajudan beliau ketika itu Soepardjo Rustam dan Tjokro Pranolo atau waktu itu dipanggil Pak Noli,” kata Padi mengenang.

Cerita tentang Jenderal Soedirman yang kita dengar dan baca baik dari mata pelajaran sejarah ketika SD dahulu maupun versi kekinian tentang siapa dan bagaimana peranan beliau dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah sesuatu yang selalu menarik untuk dikaji.

Cerita perang gerilya Jenderal Soedirman, jenderal terbaik sepanjang sejarah Indonesia, yang berjuang sampai titik darah penghabisan. Lantas, pernahkah kita mau belajar sedikit saja dari keteladanan Jenderal Soedirman? Ini saatnya kembali berbagi cerita

Mengenang Jenderal Soedirman di Pacitan

Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur, kini mempunyai obyek wisata sejarah berkelas internasional, menyusul diresmikannya Pengembangan dan Revitalisasi Kawasan Wisata Sejarah Panglima Besar Jenderal Besar Soedirman, Senin (15/12) petang di Pakis Baru, Kecamatan Nawangan.

Jenderal Soedirman

Di kawasan wisata sejarah ini, salah satu yang menarik adalah sebuah rumah yang dijadikan Markas Gerilya oleh Panglima Besar Jenderal Besar Soedirman. Rumah milik Karsosoemito, seorang bayan di dukuh sobo ini, selama 3 bulan 28 hari (107 hari), sejak tanggal 1 April 1949 sampai 7 Juli 1949, digunakan sebagai markas oleh Panglima Besar Jenderal Besar Soedirman.

“Sebelum sampai di rumah Karsosoemito, Jenderal Soedirman menginap di rumah Jaswadi Darmowidodo, Kepala Desa Pakis ketika itu, yang berjarak 7 kilometer dari Dukuh Sobo. Di Rumah Markas Gerilya ini Jenderal Soedirman bersosialisasi dan bergabung dengan masyarakat setempat,” kata Direktur Permuseuman Direktorat Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Intan, Senin (15/12) di Sobo.

Dikatakan, Jenderal Soedirman sampai di Pakis Baru, Nawangan, Kabupaten Pacitan, setelah hampir 7 bulan bergerilya keluar masuk hutan, naik turun gunung, dan menjelajah kampung. Kalau Anda berkunjung ke rumah bersejarah ini, Anda dapat menyaksikan dan merasakan betapa dahsyatnya perjuangan Jenderal Soedirman. Medan jalan yang berkelok-kelok, naik-turun pebukitan dengan jurang yang dalam di salah satu sisi jalan.

Tentu saja alam sekitar yang indah dan berudara sejuk, bahkan mungkin dirasakan sebagian orang sebagai sangat dingin. “Dari arah mana pun perjalanan menuju Pakis Baru, yang dirasakan adalah jalan yang penuh tantangan. Kita bisa merasakan betapa gigihnya perjuangan Jenderal Besar Soedirman, walau dalam kondisi sakit-sakitan,” kata Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Markas Gerilya Jenderal Soedirman ini terletak 32 km arah timur dari pusat pemerintahan di Kabupaten Pacitan. Dapat ditempuh dengan kendaraan mobil selama satu jam perjalanan. Rumah ini juga dapat ditempuh dari Kota Solo, Jawa Tengah, dengan perjalanan darat selama kurang lebih 3 jam. Atau melalui Yogyakarta selama 4 jam perjalanan. Tidak jauh dari Markas Gerilya ini, sekitar 2 km, terdapat kompleks Monumen Patung Panglima Besar Jenderal Besar Soedirman yang sangat megah.

“Pada tahun 2008 telah dilakukan konservasi dan penyempurnaan terhadap patung Panglima Besar Jenderal Besar Soedirman dan rumah bersejarah Markas Perang Gerilya ini,” kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik.

Selalu berkomunikasi

Tentang Markas Gerilya ini, Direktur Permuseuman Ditjen Sejarah dan Purbakala Depbudpar, Intan, mengatakan, Jenderal Soedirman menjadikannya sebagai tempat bersosialisasi dan bergabung dengan masyarakat setempat. Selain itu, beliau melakukan aktivitas secara teratur, serta dapat mengadakan hubungan dengan pejabat pemerintah di Yogyakarta.

“Kegiatan Beliau di rumah ini antara lain menyusun perintah-perintah harian serta petunjuk dan amanat, baik untuk tentara maupun masyarakat,” katanya.

Dari rumah yang dijadikan Markas Gerilya ini, Jenderal Soedirman selalu berkomunikasi dengan para panglima dan komandan di berbagai daerah yang dilakukan melalui caraka (kurir). Menurut seorang saksi mata, Padi (66), anak dari Karsosoemito, pemilik rumah, yang ketika itu berusia 7 tahun, banyak komandan pasukan maupun pejabat pemerintahan yang datang ke Sobo untuk minta petunjuk “sesepuh”.

“Masyarakat menyebutnya sesepuh atau orang sakti. Saya tidak tahu kalau yang tinggal di rumah itu Panglima Besar Jenderal Besar Soedirman. Hampir setiap pagi, saya dipanggil ‘sesepuh’ untuk sarapan bubur. Karena dalam kondisi sakit, ‘sesepuh’ di luar kesibukannya mengatur strategi perang, dan memberi amanat, beliau setiap pagi berjemur sinar matahari. Ajudan beliau ketika itu Soepardjo Rustam dan Tjokro Pranolo atau waktu itu dipanggil Pak Noli,” kata Padi mengenang. Ia sekarang jadi penjaga Markas Gerilya ini, dengan gaji bulanan total sebesar Rp750.000.

Lebih jauh Direktur Permuseuman Intan mengatakan, di Markas Gerilya ini Jenderal Besar Soedirman sibuk mengatur komunikasi dengan para petinggi militer. Melalui Letkol Soeharto, Jenderal Soedirman juga berkomunikasi intensif dengan Sri Sultan HB IX di Yogyakarta. “Setelah Perjanjian Roem-Royen disahkan pada tanggal 7 Mei 1949 dan Pemerintah Indonesia-Belanda sepakat untuk mengakhiri permusuhan, maka Panglima Besar Jenderal Soedirman merencanakan untuk kembali ke Yogyakarta. Akhirnya 7 Juli 1949, setelah dibujuk oleh berbagai pihak, Panglima Besar Jenderal Besar Soedirman meninggalkan rumah ini, kembali menuju Yogyakarta,” jelasnya.

Ada apa di Markas?

Sebagai rumah bersejarah, wisatawan bisa melihat situasi dan kondisi rumah yang dijadikan Markas Perang Gerilya ini. Rumah yang menghadap ke arah utara ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian depan yang disambungkan dengan bagian belakang. Rumah bagian depan berbentuk empat persegi panjang, berukuran 11,5 x 7,25 meter persegi, sedangkan rumah bagian belakang berukuran 10,2 x 7,3 meter persegi.

Rumah ini berlantaikan tanah liat. Rumah bagian depan dindingnya terbuat dari papan kayu (gebyok). Sementara rumah bagian belakang dindingnya terbuat dari anyaman bambu (gedhek). Pada ruangan depan terdapat 2 buah pintu, dan terdapat tiang-tiang kayu yang menyangga konstruksi atap. Di ruangan ini juga terdapat 4 buah kamar tidur, yang salah satunya merupakan kamar tidur Panglima Besar Soedirman. Kamar tidur lainnya pernah ditempati ajudan Beliau, yaitu Soepardjo Rustam dan Tjokro Pranolo.

Di masa gerilya di ruangan rumah terdapat satu set meja dan kursi tamu yang terbuat dari kayu serta balai-balai dari bambu. Ruang bagian belakang, yang diduga dimanfaatkan sebagai dapur dan tempat penyimpanan berbagai peralatan, tidak terdapat kamar. Pada rumah bagian belakang ini juga terdapat tiang-tiang serta terdapat sebuah pintu. Atap rumah berbentuk dua buah limasan yang disambungkan dengan talang di tengahnya. Genting penutup atap rumah terbuat dari tanah liat.

Untuk lebih memberikan informasi tentang arti penting rumah bersejarah Markas Gerilya ini, di dalam rumah kini dilakukan penataan berupa pemasangan papan informasi, foto koleksi, dan perabotan. Di depan rumah disajikan sekilas tentang sejarah dan rute Perang Gerilya, sejak berangkat hingga kembali ke Yogyakarta.

Di rumah bagian depan, dipamerkan kamar tidur Panglima Besar Soedirman, serta foto-foto Beliau ketika foto bersama dengan masyarakat di depan rumah bersejarah ini. Juga foto ketika berangkat bergerilya dan ketika Beliau pulang ke Yogyakarta.

Selain itu, di runag depan juga disajikan tiruan tandu, meja-kursi tamu, dan tempat tidur pengawal/ajudan Beliau. Di ruang bagian belakang terdapat peralatan audiovisual, untuk menyaksikan tayangan tentang Panglima Besar Jenderal Besar Soedirman.

Juga bisa dilihat peralatan dapur, alat-alat memasak, tempayan, dan peralatan lainnya. Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi rumah bersejarah ini, juga dipamerkan baju hangat yang dipakai Jenderal Soedirman, ikat kepala warna hitam, dan keris, yang dipinjamkan sementara dari Museum Jenderal Besar Soedirman.